Senin, 18 November 2013

ROJA





BAB I
PENDAHULUAN
 Agama Islam adalah agama yang paling sempurna, Agama islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan hal-hal yang terpuji. Segala tingkah laku Rasullullah SAW. patut dijadikan teladan atau Uswatun Hasanah bagi seluruh umatnya. Beliau mempunyai sifat yang terpuji, sifat itu selalu diterapan dalam tingkah laku sehari-hari baik dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam pemerintahannya sehingga beliau patut di beri gelar Al Amin.Sebagai umatnya, kita wajib mencontoh prilaku prilaku beliau baik dirumah, sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
Sifat-sifat terpuji tersebut adalah antara lain, menempati janji, berterima kasih , tanggung jawab, ramah, rajin, dermawan, hemat, rendah hati dan lain-lain.Namun di makalah ini sifat terpuji yang akan kita bahas ialah Roja.












BAB II
BAHASAN
A.       Pengertian roja
Roja’ berarti harapan. Maksudnya adalah mengharap ridha Allah SWT. Roja’ termasuk akhlak yang terpuji yaitu suatu akhlak yang dapat berguna untuk mempertebal iman dan taqwa kepada Allah SWT.
الرجاء ما قارنه عمل وإلا فهو أمنية
“Roja’ adalah sesuatu yang disertai dengan amal, jika tidak maka itu hanyalah umniyyah (lamunan)”
Nama roja’ adalah sesuatu yang disertai dengan amal, Jika tidak ada amal namanya adalah menghayal. Roja’ itu terkadang sulit. Sedangkan Umniyyah hanyalah mengetahui firman Allah tapi tidak ada semangat untuk beramal.
Sebagai muslim dan muslimah tentunya mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Supaya harapan tersebut dapat tercapai maka harus menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.dan tidak lupa untuk berdo’a. Dalam surat Al Mukmin (40) ayat 60:
ô`tBur Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4s\Ré& uqèdur ÑÆÏB÷sãB y7Í´¯»s9'ré'sù šcqè=äzôtƒ sp¨Ypgø:$# tbqè%yöãƒ $pkŽÏù ÎŽötóÎ/ 5>$|¡Ïm ÇÍÉÈ
Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (Q.S. Al Mukmin (40) : 60).
Seorang yang beriman kepada Allah SWT tentunya memiliki sifat roja’. Dengan sifat roja’ tersebut maka akan tercermin suatu sikap yang khusnudzon, berhaluan maju, dan berpikir yang islami.
Khusnudzon adalah sifat yang terpuji yaitu sifat yang menunjukkan prasangka yang baik. Sifat kebalikannya adalah su’udzan yaitu suatu prasangka buruk. Seseorang yang bersifat roja’ akan selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT, selalu optimis dalam hidup guna meningkatkan kualitas hidup, berusaha sekuat tenaga untuk meraih yang diinginkan, masalah hasil diserahkan kepada Allah SWT.
Masih tentang harap (roja), namun dari perspektif yang berbeda, khususnya harapan akan rahmat Allah. Dalam hal ini yang dimaksud dengan harap (roja) adalah keadaan hati yang sepenuhnya terpaut kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi dimasa yang akan datang. Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin berkata : ‘“Harap (roja) yang sangat kuat terletak pada janji Allah SWT, seperti yang tertuang pada hadist qudsi, bahwa Rasulullah,saw., bersabda, bahwa Allah SWT berfirman : ‘Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.’” Orang awam mungkin saja sering mendengar hadist ini, namun tidak memasuki sebuah rasa yang hakiki dan terbukanya rahasia-rahasia yang berada didalamnya. Oleh karenanya mereka menyikapinya dengan biasa-biasa saja.
Berbeda dengan para mutashowif atau para penempuh jalan kesucian (kesufian) yang telah tenggelam didalam muroqobah (meditasi) Ismul Azhom, khususnya yang berkenaan dengan sifat Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim dan Al-Ghofur. Sebagaimana kayu yang terbakar oleh api, maka sifat-sifat kayu akan hilang dan menjelma menjadi api, demikian pula para akhli muroqobah (meditasi), manakala sifat-sifat dirinya lenyap dan terkuasai oleh Sifat-Sifat-NYa, akan menjadikan cara pandang, rasa dan daya pikirnya terhadap rahmat Allah menjadi berbeda. Disinilah para pejalan telah terbusanai maqom harap (roja) yang kuat.
Pemilik maqom roja tertinggi ada pada diri Abu Bakar as-Siddiq,ra., sehingga harapannya terhadap janji Allah mendekati tashdiq (pembenaran). Ketika perang badar berlangsung Rasulullah,saw., berdoa : Ya Allah, jika sekelompok manusia ( dari umat Islam) ini Engkau hancurkan, maka setelah itu Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.’ Mendengar itu, Abu Bakar,ra., berkata : ‘Wahai Rasulullah tinggalkanlah permohonanmu itu, sebab, demi Allah, Dia pasti mengabulkan apa yang dijanjikan kepada-Mu.’ Janji yang dimaksud adalah sesuai dengan wahyu yang turun beberapa waktu sebelum perang badar terjadi : ‘Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.’ (QS 008 : 12) Pada kisah ini, ada permohonan dan keyakinan terhadap pengabulan akan janji Allah. Rasulullah,saw., lebih mengetahui Allah daripada Abu Bakar,ra., sementara Abu Bakar,ra., lebih kuat imannya daripada para sahabat yang lain. Sah hukumnya dan tidak merusak adab bagi seorang sahabat menyampaikan pendapatnya kepada sahabat yang lain. Hal ini menunjukkan hubungan kedekatan yang istimewa antara Rasulullah,saw., dengan sahabat gua-nya ini. Meskipun Rasulullah,saw., jauh lebih sempurna daripada Abu Bakar,ra., dalam segala kondisi spiritual, sehingga beliau tahu dari Allah apa yang tidak diketahui Abu Bakar,ra., dan juga sahabat yang lain. Syaikhuna berkata bahwa : ‘Pemilik maqom roja, tidak diperkenankan menyampaikan hal-hal yang dikhususkan bagi dirinya kepada orang lain. Dikhawatirkan dengan menyampaikan keajaiban-keajaiban ‘Kemurahan Tuhan’ akan membuat murid-murid menjadi malas dan bersandar kepada Kemurahan-Nya tanpa melakukan tindak riyadhah dan mujahadah yang gigih untuk menghasilkan kemurahan dari Allah.
Untuk membangkitkan semangat juang para pejalan yang telah menyentuh maqom harap (roja), Syah Syuja Kirmani,ra., berkata kepada Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., murid kesayangan dari Syaikh Yahya bin Mu’adz,ra., : ‘Engkau telah dibesarkan dalam doktrin harap ‘roja’, yang menjadi sikap gurumu. Tak seorang pun yang telah menghirup doktrin ini dapat menempuh jalan penyucian karena suatu kepercayaan mekanis kepada harap (roja) menghasilkan kemalasan.’ Ketika di Nisyapur Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., mengakui ujaran ini dan berkata dalam pandangan yang berbeda : ‘Sudah sepantasnya orang yang telah Tuhan muliakan dengan makrifat, tidak menghinakan dirinya dengan kedurhakaan kepada Tuhan.’ Kedurhakaan adalah tindak manusia sedangkan makrifat merupakan anugerah Tuhan. Mustahil bahwa orang yang dimuliakan dengan anugerah Tuhan akan terhina karena tindakannya sendiri. Sebagaimana Tuhan memuliakan Adam,as., dengan pengetahuan dan Dia tidak menghinakannya lantaran dosa yang diperbuatnya. Karenanya, pengetahuan yang dibukakan kepada para Aulia Allah terhadap hal-hal yang demikian, jika disampaikan kepada murid-murid bisa jadi disalah artikan, sehingga mereka terjerumus kedalam jurang kemalasan dan bersandar kepada Kemurahan Tuhan dari sifat Kasih Sayang-Nya kepada manusia yang tidak terbatas.
Muslim dan muslimat yang bersifat Raja’ tentu dalam hidupnya akan bersikap:
1.      Optimis
Setiap manusia akan selalu diuji keimanan dan kepribadiannya. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, manusia senantiasa menghadapi peluang dan tantangan. Tidak jarang, kegagalan dijumpai dalam usaha keras yang telah dilakukan. Bila peluang dan kesempatan telah tersedia, kemudian ditambah dengan modal, potensi, kekuatan atau kelebihan dirinya, seringkali menimbulkan rasa optimis. Sebaliknya, apabila kemampuan yang dimiliki kurang memadai, biasanya seseorang mudah merasa pesimis.
Optimis ialah keyakinan diri dan salah satu sifat baik yang dianjurkan dalam islam. Dengan sikap optimis, seseorang akan bersemangat dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan di dunia maupun dalam menghadapi kehidupan di akhirat kelak.
Sikap optimis merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap manusia, khususnya seorang muslim. Karena dengan optimis, seorang muslim akan selalu berusaha semaksimal mungkin mencapai cita-citanya dengan penuh keikhlasan karena Allah tanpa sedikitpun rasa takut dan khawatir akan mengalami kegagalan.
Optimis sangat diperlukan dalam untuk mencapai kesuksesan. Dengan adanya sikap optimis dalam diri setiap muslim, kinerja untuk amal akan meningkat dan persoalan yag dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.
2.      Perilaku Dinamis
Dinamis dapat diartikan sebagai satu keadaan yang selalu bergerak, tidak pernah diam, tidak statis. Seseorang yang dinamis adalah seseorang yang tidak kenal putus asa dalam mencapai tujuannya. Sikap dinamis ini memacu pada kemajuan dan perkembangan.
Manusia yang baik adalah manusia yang berprestasi lebih baik dari hari kemarin. Dan manusia yang buruk adalah manusia yang sama, bahkan lebih buruk dari hari kemarin. Maka berusahalah utuk menjadi manusia yang senantiasa berusaha ke arah kebaikan.

3.      Berfikir Kritis
Beberapa ciri orang yang memiliki sifat berfikir kritis antara lain:
·         Menanggapi atau memberikan komentar terhadap sesuatu dengan penuh pertimbangan.
·         Bersedia memperbaiki kesalahan
·         Dapat menganalisa sesuatu yang datang kepadanya secara sistematis
·         Bersikap cermat, jujur dan ikhlas
·         Adil dalam memberikan kesaksian tanpa melihat siapa orangnya walaupun merugikan
·         Keadilan ditegakkan dalam segala hal

3.      Mengendalikan Diri
Manusia diberi akal dan hawa nafsu oleh Allah SWT. Dua hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya sehingga manusia disebut sebagai makhluk yang paling sempurna. Seringkali hawa nafsu membawa seseorang cenderung ke arah keburukan sehingga setiap orang
B.  Hikmah.
Hikmah perilaku Raja’:
·         Memperoleh keridhoan Allah SWT
·           Terhindar dari perbuatan dosa
·           Mendapat kepuasan hidup
·         Mendekatkan diri pada Allah SWT
·         Sarana penyelesaian masalah hidup
·         Memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat
·         Menciptakan prasangka baik dan membuang prasangka buruk
·          Tidak mudah berputus asa
·         Menjadikan dirinya tenang, aman, dan tidak merasa takut pada siapapun kecuali Allah SWT
·         Dapat meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan padanya
·         Menghilangkan rasa hasud, dengki dan sombong


DAFTAR PUSTAKA
Ø  Shodiq Abdullah, Islam Tarjumah: Komunitas, Doktrin dan tradisi, RaSAIL: Semarang, Desember 2006, halaman 137
Ø  Syeikh Ahmad Rifa’I, Riayah Akhir, Korasan 22, Halaman 9, baris 2-3
Ø  Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an Juz XX halaman: 439








Tidak ada komentar:

Posting Komentar