Jumat, 03 Januari 2014

GURU DAN STRATEGI PEMBELAJARAN




Guru
Guru adalah kalimah yang tidak asing lagi di dengar oleh kita, karena bahasa guru sangatlah dekat dengan kehidupan, sedemikian dekatnya kalimah bahkan terlahirlah kalimah “pengalaman adalah guru terbaik”
dengan itu guru adalah sebuah kalimah yang menjadikan seseorang menjadi mulai karena memiliki kalimah guru tersebut, kemudian dengan begitu hebatnaya makna yang tersimpan dalam kalimah guru itu, tentunya yang menyandang kalimah tersebut sebagai pelengkap dari namanaya harus memiliki criteria dari sesosok guru yang berwibawa, dengan menjadikan guru tersebut sebagai pigur dalam segala hal.
Dengan itu maka ada yang namanya criteria guru ideal yang di butuhkan oleh para murid/ peserta didik.
Ki Hajar Dewantoro mengatakan beberapa criteria guru yang ideal, sebagai berikut:
                  1.            Ing Ngarso Sung Tulodho
Kunci sukses pendidikan yang pertama dan utama adalah Akhlaq. Guru benar-benar harus bisa menjadi teladan dalam berakhlaq. Anak didik kebanyakan lebih percaya dengan gurunya daripada orangtuanya, karena guru dianggap tahu segala-galanya. Untuk itu segala tingkah laku, sopan santun guru akan menjadi panutan muridnya. Gpepatah mengatakan guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
                  2.            Ing Madyo Mangun Karso
Kunci sukses kedua adalah Minat dan Semangat Belajar. Guru harus benar-benar  menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak sehingga setiap anak mampu berpikir kritis dan belajar mandiri.

       Jadi sebetulnya guru tidak perlu banyak mengajar, justru lebih perlu banyak menggagas tentang beragam bintang prestasi di langit yang perlu setiap siswa gapai

Seorang yang bijak berpendapat bahwa tugasnya seorang guru itu di ibaratkan menceritakan betapa nikmatnya memiliki ilmu tidak berat di bawa dan manfaatya sampai di akhir usia, dengan itu guru harus dapat membangkitkan selera anak-anak yang menuntut ilmu untuk bisa rakus dalam menkonsumsi ilmu tersebut dan tidak pernah ada puas-puasnya.
Subuah keberhasilan seorang guru adalah mampu membuat karakter murid/ anak yang dalam benaknya sudah menonaktifkan dirinaya untuk menerima/ menuntuk ilmu menjadi seorang pelajar yang mampu melebihi kemampuan gurunya.dalam tanda kutip menjadi murid yang berprestasi.
Strategi belajar
sebagai guru yang professional tentunya harus memiliki cara/ startegi belajar agar murid/ peserta didik yang ia bimbing menjadi peserta didik yang baik dan benar, adapun strateginya adalah:
1.      Mengidentifikasi masalah siswa
Identifkasi masalah siswa adalah untuk menentukan siswa yang mengalami kesulitan belajar tentunya  sangat memerlukan bantuan. Langkah ini "sangatlah mendasar " dan merupakan awal kegiatan bimbingan terhadap siswa yang bermasalah, untuk menentukan masalah yang dialaminya.
Dalam bimbingan belajar siswa, masalah yang terjadi dijaga kerahasiaannya. Dikandung maksud agar siswa yang mengalami permasalahan tidak terbebani, tidak ragu dan tanpa rasa takut mengungkapkan permasalahannya dengan jujur. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, instrumen.
2.      Diagnose
Diagnosa dilakukan dalam bimbingan belajar, diartikan sebagai rumusan-rumusan masalah siswa, jenis kesulitan serta latar belakang kesulitan dalam pelajaran, serta kesulitan belajar atau masalah yang mengganggu aktivitasnya sehari-hari sehingga mempengaruhi belajarnya.
3.      Prognosa
Prognosa merupakan kegiatan memperkirakan permasalahan, apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar tidak segera mendapat bantuan. Bertujuan untuk menentukan bantuan yang dapat diberikan kepadanya


4.      Pemberian bantuan
Bantuan yang diberikan dengan menggunakan pengarahan, motivasi, belajar. Cara mengatasi masalah kesulitan belajar melalui latihan-latihan dan tugas baik individu maupun kelompok, secara rutin.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang ditujukan kepada individu atau kelompok siswa agar yang bersangkutan dapat mengenali dirinya sendiri, baik kemampuan yang dimilikinya maupun kelemahannya agar selanjutnya dapat mengambil keputusan dan dapat bertanggung jawab dalam menentukan jalan hidupnya atau memecahkan sendiri kesulitan yang dihadapi serta dapat memahami lingkungannya secara tepat sehingga dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya.


Rabu, 25 Desember 2013

KULIAH DARUSALAM AJA

IAID CIAMIS merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang berada di kabupaten Ciamis, adapun visi dari IAID CIAMIS sendiri adalah melahirkan akademis muslim yang memiliki ketajaman intelektual, ketangguhan iman, kepekaan nurani dan kekuatan moral, IAID CIAMIS menggabungkan pendidikan akademik dengan kependidikan kepesantrenan yaitu Pondok Pesantren Darussalam.
Lahir sejak 1 juni 1970, IAID CIAMIS di percaya oleh pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon sarjana, ulama dan cendikiawan yang memiliki visi keislaman, keilmuan, kebangsaaan dan kemasyarakatan. Kepercayaan itu di buktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh plosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan.


Kamis, 19 Desember 2013

TEORI BEHAPIORISME


Pada hari jum`at guru PAI kelas 7 di smp memberikan materi tentang  keimanan, dan salah satu dari ciri seseorang beriman adalah dengan cara membersihkan dirinya dan lingkunganya dengan landasan redaksi :  النظافة من الايمان yang artinya kebersihan itu sebagian dari iman dan di ambil dari firman Allah yang artinya “Sesungguhnya Allah mencintai kepada hambanya yang bertaubat dan mencintai hambanya yang membersihkan dirinya”
     Dengan itu guru tersebut menerapkan teori itu dengan selalu mengingatkan untuk membersihkan diri murid-murid dan lingkungan sekitarnya .
    Sebelum pelajaran di mulai pak guru tersebut mengingatkan agar kelas di bersihkan sampai beberapa harimurid-murid masih harus di ingatkan untuk membersihkan dirinya dan lingkungannya. Sampai setelah tiga minggu sang guru terus mengingatkan dan minggu-minggu selanjutnya tanpa harus di ingatkan murid- murid sudah membersihkan dirinya dan lingkungan

Senin, 18 November 2013

ROJA





BAB I
PENDAHULUAN
 Agama Islam adalah agama yang paling sempurna, Agama islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan hal-hal yang terpuji. Segala tingkah laku Rasullullah SAW. patut dijadikan teladan atau Uswatun Hasanah bagi seluruh umatnya. Beliau mempunyai sifat yang terpuji, sifat itu selalu diterapan dalam tingkah laku sehari-hari baik dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam pemerintahannya sehingga beliau patut di beri gelar Al Amin.Sebagai umatnya, kita wajib mencontoh prilaku prilaku beliau baik dirumah, sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
Sifat-sifat terpuji tersebut adalah antara lain, menempati janji, berterima kasih , tanggung jawab, ramah, rajin, dermawan, hemat, rendah hati dan lain-lain.Namun di makalah ini sifat terpuji yang akan kita bahas ialah Roja.












BAB II
BAHASAN
A.       Pengertian roja
Roja’ berarti harapan. Maksudnya adalah mengharap ridha Allah SWT. Roja’ termasuk akhlak yang terpuji yaitu suatu akhlak yang dapat berguna untuk mempertebal iman dan taqwa kepada Allah SWT.
الرجاء ما قارنه عمل وإلا فهو أمنية
“Roja’ adalah sesuatu yang disertai dengan amal, jika tidak maka itu hanyalah umniyyah (lamunan)”
Nama roja’ adalah sesuatu yang disertai dengan amal, Jika tidak ada amal namanya adalah menghayal. Roja’ itu terkadang sulit. Sedangkan Umniyyah hanyalah mengetahui firman Allah tapi tidak ada semangat untuk beramal.
Sebagai muslim dan muslimah tentunya mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Supaya harapan tersebut dapat tercapai maka harus menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.dan tidak lupa untuk berdo’a. Dalam surat Al Mukmin (40) ayat 60:
ô`tBur Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4s\Ré& uqèdur ÑÆÏB÷sãB y7Í´¯»s9'ré'sù šcqè=äzôtƒ sp¨Ypgø:$# tbqè%yöãƒ $pkŽÏù ÎŽötóÎ/ 5>$|¡Ïm ÇÍÉÈ
Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (Q.S. Al Mukmin (40) : 60).
Seorang yang beriman kepada Allah SWT tentunya memiliki sifat roja’. Dengan sifat roja’ tersebut maka akan tercermin suatu sikap yang khusnudzon, berhaluan maju, dan berpikir yang islami.
Khusnudzon adalah sifat yang terpuji yaitu sifat yang menunjukkan prasangka yang baik. Sifat kebalikannya adalah su’udzan yaitu suatu prasangka buruk. Seseorang yang bersifat roja’ akan selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT, selalu optimis dalam hidup guna meningkatkan kualitas hidup, berusaha sekuat tenaga untuk meraih yang diinginkan, masalah hasil diserahkan kepada Allah SWT.
Masih tentang harap (roja), namun dari perspektif yang berbeda, khususnya harapan akan rahmat Allah. Dalam hal ini yang dimaksud dengan harap (roja) adalah keadaan hati yang sepenuhnya terpaut kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi dimasa yang akan datang. Hadrat Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin berkata : ‘“Harap (roja) yang sangat kuat terletak pada janji Allah SWT, seperti yang tertuang pada hadist qudsi, bahwa Rasulullah,saw., bersabda, bahwa Allah SWT berfirman : ‘Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.’” Orang awam mungkin saja sering mendengar hadist ini, namun tidak memasuki sebuah rasa yang hakiki dan terbukanya rahasia-rahasia yang berada didalamnya. Oleh karenanya mereka menyikapinya dengan biasa-biasa saja.
Berbeda dengan para mutashowif atau para penempuh jalan kesucian (kesufian) yang telah tenggelam didalam muroqobah (meditasi) Ismul Azhom, khususnya yang berkenaan dengan sifat Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim dan Al-Ghofur. Sebagaimana kayu yang terbakar oleh api, maka sifat-sifat kayu akan hilang dan menjelma menjadi api, demikian pula para akhli muroqobah (meditasi), manakala sifat-sifat dirinya lenyap dan terkuasai oleh Sifat-Sifat-NYa, akan menjadikan cara pandang, rasa dan daya pikirnya terhadap rahmat Allah menjadi berbeda. Disinilah para pejalan telah terbusanai maqom harap (roja) yang kuat.
Pemilik maqom roja tertinggi ada pada diri Abu Bakar as-Siddiq,ra., sehingga harapannya terhadap janji Allah mendekati tashdiq (pembenaran). Ketika perang badar berlangsung Rasulullah,saw., berdoa : Ya Allah, jika sekelompok manusia ( dari umat Islam) ini Engkau hancurkan, maka setelah itu Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini.’ Mendengar itu, Abu Bakar,ra., berkata : ‘Wahai Rasulullah tinggalkanlah permohonanmu itu, sebab, demi Allah, Dia pasti mengabulkan apa yang dijanjikan kepada-Mu.’ Janji yang dimaksud adalah sesuai dengan wahyu yang turun beberapa waktu sebelum perang badar terjadi : ‘Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.’ (QS 008 : 12) Pada kisah ini, ada permohonan dan keyakinan terhadap pengabulan akan janji Allah. Rasulullah,saw., lebih mengetahui Allah daripada Abu Bakar,ra., sementara Abu Bakar,ra., lebih kuat imannya daripada para sahabat yang lain. Sah hukumnya dan tidak merusak adab bagi seorang sahabat menyampaikan pendapatnya kepada sahabat yang lain. Hal ini menunjukkan hubungan kedekatan yang istimewa antara Rasulullah,saw., dengan sahabat gua-nya ini. Meskipun Rasulullah,saw., jauh lebih sempurna daripada Abu Bakar,ra., dalam segala kondisi spiritual, sehingga beliau tahu dari Allah apa yang tidak diketahui Abu Bakar,ra., dan juga sahabat yang lain. Syaikhuna berkata bahwa : ‘Pemilik maqom roja, tidak diperkenankan menyampaikan hal-hal yang dikhususkan bagi dirinya kepada orang lain. Dikhawatirkan dengan menyampaikan keajaiban-keajaiban ‘Kemurahan Tuhan’ akan membuat murid-murid menjadi malas dan bersandar kepada Kemurahan-Nya tanpa melakukan tindak riyadhah dan mujahadah yang gigih untuk menghasilkan kemurahan dari Allah.
Untuk membangkitkan semangat juang para pejalan yang telah menyentuh maqom harap (roja), Syah Syuja Kirmani,ra., berkata kepada Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., murid kesayangan dari Syaikh Yahya bin Mu’adz,ra., : ‘Engkau telah dibesarkan dalam doktrin harap ‘roja’, yang menjadi sikap gurumu. Tak seorang pun yang telah menghirup doktrin ini dapat menempuh jalan penyucian karena suatu kepercayaan mekanis kepada harap (roja) menghasilkan kemalasan.’ Ketika di Nisyapur Syaikh Abu Utsman al Hiri,qs., mengakui ujaran ini dan berkata dalam pandangan yang berbeda : ‘Sudah sepantasnya orang yang telah Tuhan muliakan dengan makrifat, tidak menghinakan dirinya dengan kedurhakaan kepada Tuhan.’ Kedurhakaan adalah tindak manusia sedangkan makrifat merupakan anugerah Tuhan. Mustahil bahwa orang yang dimuliakan dengan anugerah Tuhan akan terhina karena tindakannya sendiri. Sebagaimana Tuhan memuliakan Adam,as., dengan pengetahuan dan Dia tidak menghinakannya lantaran dosa yang diperbuatnya. Karenanya, pengetahuan yang dibukakan kepada para Aulia Allah terhadap hal-hal yang demikian, jika disampaikan kepada murid-murid bisa jadi disalah artikan, sehingga mereka terjerumus kedalam jurang kemalasan dan bersandar kepada Kemurahan Tuhan dari sifat Kasih Sayang-Nya kepada manusia yang tidak terbatas.
Muslim dan muslimat yang bersifat Raja’ tentu dalam hidupnya akan bersikap:
1.      Optimis
Setiap manusia akan selalu diuji keimanan dan kepribadiannya. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, manusia senantiasa menghadapi peluang dan tantangan. Tidak jarang, kegagalan dijumpai dalam usaha keras yang telah dilakukan. Bila peluang dan kesempatan telah tersedia, kemudian ditambah dengan modal, potensi, kekuatan atau kelebihan dirinya, seringkali menimbulkan rasa optimis. Sebaliknya, apabila kemampuan yang dimiliki kurang memadai, biasanya seseorang mudah merasa pesimis.
Optimis ialah keyakinan diri dan salah satu sifat baik yang dianjurkan dalam islam. Dengan sikap optimis, seseorang akan bersemangat dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan di dunia maupun dalam menghadapi kehidupan di akhirat kelak.
Sikap optimis merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap manusia, khususnya seorang muslim. Karena dengan optimis, seorang muslim akan selalu berusaha semaksimal mungkin mencapai cita-citanya dengan penuh keikhlasan karena Allah tanpa sedikitpun rasa takut dan khawatir akan mengalami kegagalan.
Optimis sangat diperlukan dalam untuk mencapai kesuksesan. Dengan adanya sikap optimis dalam diri setiap muslim, kinerja untuk amal akan meningkat dan persoalan yag dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.
2.      Perilaku Dinamis
Dinamis dapat diartikan sebagai satu keadaan yang selalu bergerak, tidak pernah diam, tidak statis. Seseorang yang dinamis adalah seseorang yang tidak kenal putus asa dalam mencapai tujuannya. Sikap dinamis ini memacu pada kemajuan dan perkembangan.
Manusia yang baik adalah manusia yang berprestasi lebih baik dari hari kemarin. Dan manusia yang buruk adalah manusia yang sama, bahkan lebih buruk dari hari kemarin. Maka berusahalah utuk menjadi manusia yang senantiasa berusaha ke arah kebaikan.

3.      Berfikir Kritis
Beberapa ciri orang yang memiliki sifat berfikir kritis antara lain:
·         Menanggapi atau memberikan komentar terhadap sesuatu dengan penuh pertimbangan.
·         Bersedia memperbaiki kesalahan
·         Dapat menganalisa sesuatu yang datang kepadanya secara sistematis
·         Bersikap cermat, jujur dan ikhlas
·         Adil dalam memberikan kesaksian tanpa melihat siapa orangnya walaupun merugikan
·         Keadilan ditegakkan dalam segala hal

3.      Mengendalikan Diri
Manusia diberi akal dan hawa nafsu oleh Allah SWT. Dua hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya sehingga manusia disebut sebagai makhluk yang paling sempurna. Seringkali hawa nafsu membawa seseorang cenderung ke arah keburukan sehingga setiap orang
B.  Hikmah.
Hikmah perilaku Raja’:
·         Memperoleh keridhoan Allah SWT
·           Terhindar dari perbuatan dosa
·           Mendapat kepuasan hidup
·         Mendekatkan diri pada Allah SWT
·         Sarana penyelesaian masalah hidup
·         Memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat
·         Menciptakan prasangka baik dan membuang prasangka buruk
·          Tidak mudah berputus asa
·         Menjadikan dirinya tenang, aman, dan tidak merasa takut pada siapapun kecuali Allah SWT
·         Dapat meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan padanya
·         Menghilangkan rasa hasud, dengki dan sombong


DAFTAR PUSTAKA
Ø  Shodiq Abdullah, Islam Tarjumah: Komunitas, Doktrin dan tradisi, RaSAIL: Semarang, Desember 2006, halaman 137
Ø  Syeikh Ahmad Rifa’I, Riayah Akhir, Korasan 22, Halaman 9, baris 2-3
Ø  Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an Juz XX halaman: 439